Kamis, 17 Agustus 2017

Undangan dari Walikota Balikpapan M. Rizal Effendi, S.E.


Saya tidak hadir karena baru buka posel sayagusnoy@yahoo.com pada 17 Agustus malam. Undangan sampai di posel pada 15 Agustus.

Ya, sesekali mendapat undangan bertanda tangan walikota begini sebagai suatu apresiasi, yang entah apa itu.

Selasa, 15 Agustus 2017

Membuat Puisi itu Mudah dan Susah

Membuat puisi itu mudah kalau hanya untuk dinikmati sendiri, lalu dibacakan pada acara-acara pentas baca puisi. Membuat puisi itu mudah kalau hanya berdasarkan suasana hati, apalagi ketika sakit hati.

Lebih lagi ketika pemahaman puisi sekadar tarian kata-kata dalam baris dan bait dengan kaidah-kaidah umum melalui rima, dan diksi-diksi penuh “keindahan”. Ya, biasanya begitulah yang terbaca pada sebagian puisi.

Paling mudah berpuisi adalah ketika suasana hati sangat mendukung, misalnya jatuh cinta, patah hati, kecewa, cemburu, marah, dan segala yang bersumber dari gelora suasana hati (emosional). Dalam suasana tersebut puisi bisa tercipta dalam jumlah berlimpah ruah.

Tetapi tidaklah demikian ketika membuat puisi untuk suatu pertarungan. Dalam suatu pertarungan karya, tema tertentu sangat terasa batasannya. Ditambah mengenai suatu daerah yang jauh, yang sama sekali belum pernah dikunjungi, apalagi diikuti oleh para penyair berkaliber nasional, dan semua melalui tahap penjurian.

Puisi, dalam suatu pertarungan bertema tertentu, bukanlah sekadar sebuah kata-kata curahan isi hati. Puisi bermutu, kata para penyair hebat, harus melalui tahap riset (pencarian data), kerangka karangan, dan kontempelasi (perenungan). Sebab, puisi adalah suatu karya serius, jika memang dimaksudkan untuk mutu serius.

Itulah sebabnya puisi merupakan hak cipta yang tergabung dalam Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), bukannya Hak Atas Kekayaan Emosional (HAKE) yang memang tidak ada dalam undang-undang.

Mengikuti pertarungan puisi bertema tertentu yang diselenggarakan oleh suatu komunitas atau lembaga kesenian yang mumpuni sangatlah penting untuk menguji kemampuan menciptakan puisi. Pertarungan merupakan ujian non-formal, dan kreativitas menjadi pertaruhan yang serius.

Semakin sering mengikuti pertarungan, semakin bisa mengenal nama-nama penyair yang petarung itu. Penyair-penyair yang petarung handal selalu mengelola kemahiran dan wawasan karena dalam pertarungan pula nama mereka dipertaruhkan di hadapan banyak orang, meskipun melalui pengumuman hasilnya di media sosial.

*******
Panggung Renung Balikpapan, 2017

Senin, 14 Agustus 2017

Puisiku "Selembar Daun Sahang Mencari Serambut Akar"*

dengan selembar daun sahang --- bukan taijab saijab merapin cerungkup --- kebun belakang rumah bubung panjang sepintu sedulang aku menyeberang selat

aku sekadar pengelana
sejenak singgah hanya menanya
demikian kugemakan dada

di sang bumi ruwa jurai tidaklah kupinta liukan sembah dan sigeh pengunten di lamban baginda sebab jabat baginda seketika jadi jembatan tanyaku menggema tidak sempat menyapa nuwu anjung mahan dan masih banyak atap berselimut kepulan aroma sahang cengkeh 

di klutum jati lepau aku bersila bersama baginda berkain tapis dan sirih pinang ditengahi secangkir robusta hasil kebun baginda dan sepiring engkak selimpok geguduh hangat tanpa perlu mengerti isi panggakh lapang lom bilik kebik tebelayakh sekhudu dapokh nasihat cambai urai ti usung dilom adat pusako

dengan selembar daun sahang hendak kucari akar hayat batangnya telah merambat menjangkau kebun belakang rumah bubung panjang butirannya memutih --- menghitam di pelataran baginda -- sampai pantai permai tegar melawan hantam badai moneter

apalah selembar daun tanpa mendedah setiap serat urat sebab padanya tertulis risalah berlembar-lembar hendak baginda kisahkan selagi aku sejenak bersila dalam dampak robusta geguduh

tiadalah gajah tanpa gading
tiadalah gading tanpa retak
demikian baginda membuka paham 

pada mula baginda berdiri memegang payung jurai emas di anjak lambung semilir semerbak harum butir-butir sahang sedang dipanggang matahari bersepoi aroma cengkeh kopi robusta menyebar ke bukit barisan selatan dan way kambas berarak awan membedaki gunung pesagi

lembar-lembar abad adalah warahan tentang perziarahan dari tambo dan dalung di kenali batu brak sukau pada sekala brak berbuay tumi berbelasa kepampang di belalau mengalir ke segala way sebelum sriwijaya melumat laut samudera raya sampai kelak terpesona emas dan damar berpatok palas pasemah batu bedil dengan tolang pohwang dalam cadel naga

selembar daun sahang kubolak-balik
adakah yang terlewatkan pada uratnya
demikian seruput robusta menyimak baginda

empat umpu pagaruyung dan putri bulan memenangkan sekerumong membongkar tanah belalau sekala brak mengibarkan panji paksi pak berempat kebuwayan seketika sisa buay tumi berai ke utara selatan hingga pesisir krui berbuay pidada bandar laai way sindi langsung tersapu deru derap lemia ralang pantang dan lima punggawa

belasa kepampang ditebang jadi pepadun untuk saibatin raja-raja paksi pak beraksara had mengelupas kaganga para puyang berabad-abad terlipat-lipat syahdan banten mengendus semerbak harum sahang di pelabuhan sebagai jalan raya nusantara juga ziarah siar kalbu

semerbak harum sahang tidak luput dari kapal-kapal berhidung mancung putih arung laut samudera berkarung gulden beremah salju diganti hangat sahang menjadi panas cengkeraman kuku-kuku singa semakin sengit perebutan pertarungan

hangatnya sahang panasnya pertarungan menggelegarkan krakatau 10.000 kali bom atom hiroshima nagasaki menggetarkan lingkaran 4.600 kilometer menggelapkan wajah bumi menggampar wajah bulan --- putri bulan tidak lagi menggemaskan  

luluh lantak berdandan ziarah kolonisten ke bagelen gedong tataan  sukadana kota agung mengayakan rupa-rupa pada wajah-wajah sang bumi ruwa jurai dengan ruang-ruang berporsi-porsi sampai terangkat tekhapang badik payan candung membegal kapal-kapal hidung mancung putih menancap tonggak merah putih bersayap garuda

baginda menghela sesak ziarah menarik kesegaran melanjutkan perziarahan dengan pancaran hijau coklat biru putih  kuning melalui serat urat selembar daun sahang di persilaanku terpampang wajah-wajah pesawaran metro pringsewu tanggamus batanghari tulangbawang dari semenanjung selatan bertunas-tunas beton pada 15 halamannya bertugu radin intan menara siger adipura pengantin beriring cangget dalam kalender-kalender meski setiap menara adalah gading dan tiada gading tiada retak

dengan serat urat selembar daun sahang syahdan baginda membentang wajah-wajah pukauan dari purawiwitan bawang bakung pugung raharjo tulang bawang wan abdul rahman karanganyar bumi kedaton gita persada tanjung bintang menara siger batu tegi terjun ke putri malu curup tujuh sinar tiga way lalaan lembah pelangi tujuh linggapura gangsa kota batu turun ke wana melinting batu brak enggal mengalir ke ranau way belerang way jepara menuju labuhan maringgai tanjung tuha pasir putih kilauan tanjung setia sari ringgung kalianda klara mutun gigi hiu mandiri walur duta wisata kuala kambas embe merak belantung wartawan menyeberang ke pahawang tanjung putus tegal maitem condong laguna dodo sebuku kubur balak lok lunik mengkudu sekepel tangkil batu naga krakatau berliuk pula riang bendana

sungguhlah pukau sangatlah silau
tiada halau seluruh jangkau pantau
demikian penuh dalam pandangku

di klutum jati aku terpaku suguhan kisah baginda meski masihlah tersimpan keelokan garis-garis samar peta baru sepenjuru mata angin dari sisa urat selembar daun sahang

*******
Panggung Renung Balikpapan, 2017

*) Puisi ini masuk nominasi (no.7 atau 10 besar) dalam Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2017

Puisiku Masuk Nomine dalam Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2017

Puisiku "Selembar Daun Sahang Mencari Serambut Akar" hanya mampu menembus posisi nominator dalam Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2017.  Posisinya pada nomor 7.

Walau begitu aku cukup senang karena lomba cipta puisi kali ini terbilang akbar dalam sejarah lomba cipta puisi nasional karena menyuguhkan hadiah sangat menggiurkan bagi banyak penyair. Juara I mendapat Rp.3.000.000,00, Juara II mendapat Rp.2.000.000,00, dan Juara III mendapat Rp.1.000.000,00. Masing-masing juara ditambah tiket+akomodasi dari Jakarta ke Lampung.

Tidak tanggung-tanggung, peserta berjumlah 366 orang dari seluruh Indonesia. Berada pada nomor urut 7 alias 10 besar, dan tergabung dalam buku antologinya, sudah senanglah aku. Sejarah bagiku sendiri, selain puisi tersebut merupakan puisi terpanjang yang pernah kubuat.

*******

Baca :
1. http://inilampung.com/puisi-hikayat-buang-tondjam-juara-pertama-krakatau-award-2017/
2. https://www.teraslampung.com/ini-47-judul-puisi-nomine-pemenang-lomba-cipta-puisi-krakatau-award-2017/

*******

Dari status Fb Udo Z. Karzi, 14 Agustus 2017:

SELAMAT, SELAMAT kepada Rahmad Saleh, Alex R. Nainggolan, Rahmat Sudirman, dan 47 nominasi yang berjaya dalam Krakatau Award 2017.
https://www.teraslampung.com/rahmad-saleh-menangi-lomba-ci…/
Berikut Pemenang dan Nominasi Krakatau Award 2017 selengkapnya:
Juara I: Hikayat Buang Tondjam” karya Rahmad Saleh (Bandar Lampung)
Juara II: Pantai Mutun karya Alexander Robert Nainggolan (Tangerang, Banten)
Juara III: Ihwal Secangkir Negeri karya Rahmat Sudirman (Kalianda, Lampung Selatan)
47 karya puisi Nominasi:
1. Hikayat di Tulang Bawang, Muhammad Daffa (Banjar Baru)
2. Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai, Benekditus Agung (Yogyakarta)
3. Cuaca Jernih dan Kawan Berdatangan, Joko Setyo Nugroho (Lampung Timur)
4. Senja di Teluk, I Nyoman Sukaya (Bali)
5. Yang Kuingat Hanya Lampung si Jelita, Drs. Ahmad Anuf Chafiddi (Surabaya)
6. Sekura di Mataku, Neni Yulianti (Kota Cirebon)
7. Selembar Daun Sahang Mencari Serambut Akar, Agustinus Wahjono (Balikpapan)
8. Bakauheni, Kaki Krakatau, dan Seribu Kenangan Tentangmu, CHR Eti Hemawati (Semarang)
9. Mengepal Kenang, Bambang Widiatmoko (Bekasi)
10. Dalam Ketinggian Musim Krakatau, Budi Saputra (Padang)
11. Di Tanjung Bintang Saat Senyum dan Rindu Menjadi Sekeras Batu, Rusdi (Kebumen)
12. Kampung Halaman, Kata Pelengkap Sajak, Marsten L. Tarigan (Searang)
13. Kenang-kenang di Pulau Pisang: Yang Lampau Yang Sekarang, Prahayanti Ainia (Depok)
14. Berkelana ke Negeri Lampung, Arif Hukmi (Bombana, Sulawesi Tenggara)
15. Nak (Sagata yang Gagal Tercipta), M. Insyafani (Way Kanan)
16. Lelaki Sekura, Riduan Hamsyah (Banten)
17. Ziarah Sunyi: Kepada Dayang Rindu, Adam Yudhistira (Muara Enim, Sumsel)
18. Kapa yang Berlari dari Laut, Yana Risdiana (Bandung)
19. Kaldera Tua: Ketika Aku Jatuh, Elok Teja Suminar (Bandar Lampung)
20. Mozaik Lampung, Zakiyah Azzahra (Abung Selatan)
21. Sigeh Penguten, Robi Akbar (Bandar Lampung)
22. Di Pelabuhan Bakauheni Sayang Impian-Harapan Mengalir Tiada Henti, Akhmad Sekhu (Tegal)
23. Sekura Kamak, Vebri Yana (Lampung Barat)
24. Sebelas Gajah di Puncak Pesagi, Djuhardi Basri (Kotabumi)
25. Tamasya Keluarga dan Sedikit Catatan Lampung dalam Protret Pembangunan, Nanang R. Supriyatin (Jakarta)
26. S(u)atu Waktu – Tersesat di Bandar Ulun, Alek Brawijaya (Muba, Sumsel)
27. Di Pugung Raharjo, Dadang Ari Murtono (Mojokerto, Jawa Tiur)
28. Sejuta Rindu untuk Lampung, Thamrin Effendi (Kotabumi)
29. Mutiara-Mutiara di Tanah Lampung, Nurlaela Isnawati (Kebumen)
30. Di Teluk Kiluan Aku Bersaksi, Nurul Muslimin (Yogyakarta)
31. Diorama Gerbang Andalas, Sami’an (Jember)
32. Malam di Selat Sunda, Syarifuddin Arifin (Padang)
33. Surat untuk Bakauheni, Seruni Tri Padmini (Solo)
34. Pulau Kubur, M Ibrahim MH (Yogyakarta)
35. Way Linti dan Upacara Pengantin Lampung, Heru Mulyadi (Banjarnegara)
36. Pada Kain Tapismu Tumbuh Pohon Hayat, Wayan Jengki Sunarta (Bali)
37. Janin Batu, Endang Supriadi (Depok)
38. Tahiyatul Lampung, Ahmad Musabbih (Tegal)
39. Kidung Pulau Sebuku, Nuwail (Sumenep)
40. Gelombang Kejut, Edi Supranoto (Banyumas)
41. Tamasya Sebatang Roh di Kedalaman Rahim Lampung, Ahmad Ijazi Hasbullah (Pekanbaru)
42. Nama-nama Benda dalam Searah Percakapan Makan Malam, Fina Lanahdiana (Kendal)
43. Ketika Perahu dan Pantai Jadi Satu, Ikal Hidayat Noor (Tuban)
44. Narasi Sebiji Kopi, Anton Kurniawan (Lampung Utara)
45. Di Teluk Kiluan dan Isyarat-isyarat yang Samar, Budhi Setyawan (Bekasi)
46. Persaksian Tanah Tanjung—tanah lampung, Khalili (Madura)
47. Belantara Gagah Rajabasa, Abizar Purama (Gresik)
Bandar Lampung, 14 Agustus 2017

Dewan Juri
Ari Pahala Hutabarat
Isbedy Stiawan ZS
Syaiful Irba Tanpaka

Selasa, 25 Juli 2017

Hidup Harus Berlanjut

Selasa, 25 Juli 2017, aku mendapat penghiburan yang luar biasa.

1. Puisi (https://www.facebook.com/kangriboet.gondrongii/posts/793628250805997, atau http://www.litera.co.id/2017/07/26/dkkp-umumkan-hasil-seleksi-puisi/)
2. Esai (https://www.bukuindie.com/mungkinkah-menerbitkan-buku-tanpa-penerbit-dan-isbn/)

Hidup memang harus berlanjut. Aku tidak bisa berhenti untuk berkarya, meski sama sekali tidak pernah dihargai di Kota Minyak ini selama aku menjadi warganya dari 2009 sampai 2017 ini. Aku tidak pernah mendapat kesempatan dan sokongan dana untuk menghadiri acara-acara sastra regional dan nasional. Semua karena aku sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa di Negeri Beruang Madu ini.

Biarlah. Aku tetap akan berkarya. Berkarya adalah konsistensi dan konsekuensi, jika aku memang sedang membuat sejarahku sendiri. Bukan perhargaan yang membuat aku konsisten. Bukan penghargaan pula yang menjadi konsekuensi atas konsistenitasku berkarya.

Aku berkarya karena memang sudah begitu adanya sejak aku suka mencoret dinding di rumah ketika masih balita. Bukan karena "aku berkarya maka aku ada". Sebaliknya, "aku ada maka aku berkarya".

Tuhan memberi talenta padaku untuk aku pergunakan sebaik-baiknya. Aku akan terus menggunakan sekaligus mengasahnya agar aku semakin bisa mengucap syukur kepada-Nya. Biarlah manusia tidak menghargaiku tetapi aku menghargai talenta yang Tuhan berikan.

Dan, biarlah orang lain tidak menyukai Tuhan-ku karena memang aku dan mereka berbeda. Perbedaan bukanlah kesalahan atau kebencian, melainkan semakin membentukku berbarengan dengan karya-karyaku untuk menjadi seperti apa yang sejak semula adanya aku dalam Kitab Kehidupan.

Aku pun memulai Agustus dengan berkarya. Aku mengikuti kompetisi puisi dalam rangka Krakatau Award 2017. Aku mengikuti kompetisi artikel di Geotimes dalam rangka Hari Kemerdekaan. Aku mengikuti kompetisi opini di Jurnal Ruang, Gramedia. Dan sedang membuat cerita anak untuk kompetisi tingkat Kaltim & Kaltara.

Demikian saja.

Senin, 24 Juli 2017

Senin, 24 Juli, 08.30 WITA

Setelah 22 Juli
adalah 24 Juli.

Ini seperti ketika bapakku meninggal dunia.
Ambil saja semuanya.
Jangan nyawaku.

Sudah kehilangan antusiasme. Sudah kehabisan asa mengenai pemahaman. Sebab, pemahaman ternyata tidak penting, dan kejengkelan-kebencian menjadi ujung tombaknya.

Aku sudah membuktikan, tidaklah mudah memahami gabungan dua-tiga kata atau frasa. Aku bukanlah jenis orang suka memfitnah. Prinsipku, mending diam daripada memfitnah.

Mendatangi

Aku menyanggupi permintaan datang ke sebuah tempat sekaligus, kupikir, bisa menjelaskan ketidakjelasan informasi dan fakta. Aku bukanlah tipe pengecut karena aku sadar posisiku.

Sebelumnya, aku sama sekali tidak memiliki uang untuk membeli bensin eceran. Berapa harga bensin eceran? Rp. 8.000,00. Tidak ada uang segitu? Sumpah demi Pencipta yang menyaksikan hidupku!

Tidak ada orang yang percaya bahwa aku sama sekali tidak memiliki uang. Ketika aku jujur, tetap saja tidak seorang pun percaya. Hanya istriku yang mengenal aku, ternyata.

Seorang kawan menransfer Rp.50.000,00. Tapi, terpotong biaya administrasi, aku tidak bisa mencairkan transferan itu. Maaf, Bro.

Pagi itu, pkl. 08.00-an, aku sudah sampai di tempat. Baru bisa bertemu pkl.09.00-an. Sebentar berbincang soal...

Berapa Lamakah...

Pertanyaan termudah, berapa lamakah, ternyata tidak terjawab dengan semestinya. Jawabannya melenceng ke mana-mana, sampai ke urusan iuran segala. Luar biasa.

Mereka sudah memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) tetapi tidak mampu menjawab "berapa lamakah SIM jadi". Yang mereka jawab adalah proses pembuatan SIM, proses pembuatan KTP, proses menggali lubang kubur, dan lain-lain. Sama sekali tidak menjawab "waktu" melalui "berapa lamakah".

Sudah gagal paham (gagal memahami pertanyaan atau frasa), masih juga kecewa padaku. Gila! Sumpah mati, benar-benar gila! Mereka kompak membenci aku!

Jujur, aku menangis, dan itulah tangisan setelah bapakku meninggal dunia pada 11 Maret 2016. Aku tidak mampu marah karena, kupikir, sangat percuma memarahi orang yang sama sekali sudah memasang tembok kebencian. Maka aku segera keluar dari "arena".

Ya, Tuhan, aku benar-benar putus asa atas pemahaman itu. Tamatlah riwayat itu. Jangan kembalikan aku pada mereka, Tuhan. Jauhkan aku dari amarah, dan biarkan aku menangis sepanjang jalan pulang.