Kamis, 28 Maret 2019

ISBN untuk Buku “Sang Pengendara Aksara” sudah Cair


Gerimis menyambut sore. Seekor anak tikus terlengket dalam jebakan. Aku menyeruput kopi hitam sambil menunggu internet tersambung.

Tadi subuh aku mengirim permohonan ISBN untuk buku “Sang Pengendara Aksara” ke Perpustakaan Nasional RI. Sekadar mencoba bermain dengan waktu karena hari ini Kamis. Apakah ISBN bisa keluar dalam satu hari?

Pasalnya, ketika aku mengurus ISBN untuk buku novelnya Alfian pada hari Jumat, ISBN “cair” pada hari Selasa. Nah, bagaimana kalau kali ini kucoba pada hari Kamis?

Ternyata ISBN sudah “cair”. Tidak sampai satu hari. Puji-syukur kepada Tuhan. Alhamdulillah.


Berarti, lain kali, sebaiknya permohonan ISBN kukirim dari antara Senin s.d. Kamis, kalau mau cepat. Kalau tidak mau cepat, ya, Jumat s.d. Minggu. Ya, selalu ada pilihan di antara cepat atau lambat.

Kurasa begitu sajalah. Aku mau menyeruput kopi lagi.

*******
Pinggir Panggung Renung, 28/03/2019

Rabu, 27 Maret 2019

Satu Calon Buku Kuselesaikan Lagi


Kamis berazan Subuh dari beberapa masjid. Udara masih basah karena selepas Magrib sempat hujan. Kukuruyuk-kukuruyuk bersahutan dengan miaw-miaw seekor anak kucing entah di mana.

Aku baru mengirimkan permohonan ISBN untuk calon bukuku, “Sang Pengendara Aksara”. Buku ke-3 untuk resolusi 2019. Dalam buku ini terdapat 23 artikel seputar kegiatan tulis-menulis, dan berstempel "Pilihan" di Kompasiana.Com. Semua sudah siap naik cetak, kecuali uang untuk biaya pencetakannya.


Tidak perlu menanyakan soal uang itu. Aku hanya bisa mengimani bahwa uang akan ada dengan sendirinya. Bukan karena uang maka aku kemudian menyiapkan apa pun. Uang urusan Tuhan, aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan.

Lalu, bagaimana dengan buku ke-2, “Surga Siap Saji”? Belum kuajukan permohonan ISBN karena ilustrasi isi belum kupindai. Beberapa ilustrasi akan mengubah halaman sehingga belum bisa kucantumkan halaman yang pasti di Daftar Isi. Untuk pengajuan ISBN dan KDT, aku harus memastikan jumlah halamannya.

Ya, resolusi 2019 yang kuimani pada akhir 2018 adalah terbitnya tujuh bukuku. Semua bukuku pada 2019 berupa kumpulan artikelku yang berstempel “Pilihan” (Highlight) dan “Artikel Utama” (Headline) di Kompasiana.Com. Berapa dana yang harus kusiapkan? Lagi, Tuhan yang akan memberikannya. Bagaimana caranya? Urusan Tuhan, biarkan saja.

Aku memang berupaya menyiapkan apa yang bisa kulakukan, khususnya untuk calon buku-bukuku. Untuk membuat satu buku saja, bukan pekerjaan yang mudah dan singkat, semisal dua hari selesai. Meski sampulnya sudah jadi, aku pasti membenahinya sampai siap naik cetak.

Sekarang mumpung ada waktu sebelum buku novel “Setiap Malam adalah Sepi”-nya Alfiansyah datang dari sebuah percetakan di Jawa. Kalau buku novel itu datang, aku harus pergi lagi ke Kupang untuk menyelesaikan pekerjaan arsitekturku yang tertunda. Elcid sudah mengabarkan bahwa aku harus kembali, tetapi beri tahu waktunya.

Mau-tidak mau aku harus pergi, meski berat kutinggalkan Balikpapan, termasuk acara peluncuran novelnya Alfian. Pergi juga, bagiku, waktu yang tepat untuk menjemput rezeki dari Tuhan sehingga aku bisa membiayai pencetakan buku-bukuku.


Tujuh bukuku harus terbit sesuai dengan resolusiku. Untuk apa jika semuanya terbit? Untuk mewujudkan keinginanku dalam pengabadian karya berbentuk buku. Buku-buku yang berisi artikel tematis. Arsitek dan arsitektur. Seputar dunia tulis-menulis. Artikel utama yang perlu pemikiran “lebih”. Tentang korupsi. Tentang sastra dan sudut-sudutnya. Dan seterusnya.

Terus terang, kalau nanti berada di Kupang, aku pasti sibuk berurusan dengan perancangan dan pembangunan. Jiwa dan raga pasti capai ("capek" tidak baku). Aku harus menyiapkannya sebelum capai menderaku. Risiko yang sudah biasa. Mujurnya, novel Alfian sudah selesai.

Sirine pkl.06.00 WITA sudah berbunyi. Kukuruyuk masih bersahut-sahutan. Kicau seekor kutilang liar sudah membuka pagi yang mendung.

Aku harus mengakhiri tulisan sepele ini karena sudah waktuku untuk tidur. Tidur sambil menunggu paket buku novel Alfian datang. Semoga buku novel Alfian membuka kemungkinan-kemungkinan yang positif dan potensial untuk kebaikan bersama sebelum kelak aku tidak mampu pergi ke mana-mana lagi.

*******
Pinggir Panggung Renung, 28/03/2019

Minggu, 24 Maret 2019

Menjadi Diri Sendiri


Senin, 25/3/2019. Pkl. 00.45 WITA. Udara basah, sisa hujan Minggu sore. Nyanyian jangkrik. Musik kendaraan.

Aku sudah menyelesaikan ilustrasi untuk calon bukuku, “Surga Siap Saji”–sebuah kumpulan “Artikel Utama” di Kompasiana.Com. Ilustrasi terakhir adalah karikatur Tilaria Padika aka George Hormat alias Gege.



Enam lembar HVS A4 dengan aneka ilustrasi kugantung dekat tempat dudukku. Aku belum bisa memindai (men-scan) semua itu karena alat pemindaiku rusak sejak tahun lalu. Aku belum memiliki biaya untuk memperbaikinya. Aku memang sedang tidak memiliki uang.

Sementara calon buku “Arsitek yang Menulis” sudah siap memasuki proses pencetakan setelah mendapat ISBN (International Serial Book Number) dari Perpustakaan Nasional RI. Namun, lagi-lagi, aku sedang tidak memiliki uang untuk membiayainya.

Intinya, aku memang tidak memiliki uang untuk semuanya itu.

Aku memang tidak bekerja seperti kebanyakan orang. Mengapa aku tidak bekerja agar menghasilkan uang sekian juta rupiah saban bulan, dan seterusnya, tidak perlu kusampaikan di sini. Apakah kemudian aku harus bersedih?

Terlalu sepele hidup ini jika setiap waktu aku perlu bersedih. Tuhan selalu mengajakku bersuka cita, bahkan senantiasa. Tuhan selalu mengajakku bersyukur dalam segala hal. Firman-Nya selalu hidup, dan berdegup bersama irama jantungku. Bukan karena berduit lantas aku bersuka cita dan bersyukur. Bukan karena buku-bukuku terbit lantas aku akan bersorak-sorai.

Aku sudah menjadi diriku sendiri sejak mengenal-Nya pada 1989. Aku tidak perlu meniru siapa-siapa atau ingin menjadi seperti siapa. Aku tercipta secara khusus. Ya, setiap manusia tercipta secara khusus karena itulah hebatnya Tuhan yang kupercaya.

Tuhan membentuk aku secara khusus dengan talenta dari-Nya yang kugali dalam diriku. Talentaku bukanlah untuk menjadi kaya secara materi, tetapi kaya secara karya. Secara manusiawi, Yesus Kristus hanyalah anak tukang kayu. Yesus Kristus tidak memiliki ternak. Yesus Kristus tidak memiliki lahan. Yesus Kristus hanya memiliki karya, bahkan sampai mati di kayu salib Yesus Kristus tidak memiliki harta benda duniawi.

Malam menjelang dini hari masih menyisakan udara basah dan suara-suara tadi. Aku masih mengetik tulisan sepele ini.

Aku merasa Tuhan tidak mengizinkan aku menggerakkan jari-jari untuk mengetik hal-hal yang tidak baik, kecuali menikmati waktu sebelum kantuk berkunjung lalu mengajakku beranjak ke tempat tidur. Bagiku, Tuhan selalu lebih baik daripada apa pun yang kumiliki atau yang mampu kuraih. Bagiku, menjadi diri sendiri adalah yang terbaik dari segala ambisi yang ditawarkan oleh kehidupan ini.      

*******
Balikpapan, 25 Maret 2019       

Kamis, 14 Maret 2019

Jangan Cengeng, dan Suka Main Keroyok

Rencana 2019 : 7 Buku Kumpulan Esai Karya Gus Noy


Gaes,
Aku bisa menangis, tetapi bukan berarti cengeng. Kalau aku cengeng, tidak akan berani pergi dari ketiak ibuku ketika lulus SMP. Ya, SMA sampai tamat pendidikan Arsitektur aku berada di Yogyakarta, sementara orang tuaku tetap di Sungailiat, Bangka (Babel), tepatnya Kampung Sri Pemandang Atas.

Kampung Sri Pemandang Atas itu sangat pelosok alais jauh dari Ibu Kota Babel, yaitu Pangkalpinang, apalagi Ibu Kota Indonesia. Kampung halamanku tidak pernah menjadi perbincangan apa pun dalam kancah kemajuan Indonesia. Namun aku sangat berterima kasih kepada kampung halamanku, sekaligus bangga dengan selalu menyebutkannya dalam setiap riwayat hidup (biodata) karya-karyaku.  

Gaes,
Di perantauan aku bukanlah menjadi penonton terhadap situasi daerah perantauan sampai kembali ke kampung halaman dan bercerita hingga berbusa-busa mengenai kehebatan daerah perantauan. Ketika Kelas III SMA, aku sudah dipercaya oleh pihak sekolah, khususnya guru Seni Rupa, untuk menjadi juri dalam lomba lukis di sekolah. SMA itu di Kota Pelajar yang juga Kota Budaya, Gaes, sedangkan aku sama sekali asli dari kampung yang jauh dari pelosok kota terkenal di Indonesia.

Apakah karena aku pintar?

Gaes,
Aku bukanlah orang pintar. Aku hanyalah orang beruntung alias bernasib baik/mujur. Untuk bisa melanjutkan belajar ke Yogyakarta saja aku hanya mengandalkan nasib ketika menghadapi Ebtanas. Aku diultimatum oleh ibuku, bahwa nilaiku harus sampai pada angka minimal kalau mau bersekolah di Jawa. Aku seorang pemalas dalam belajar di sekolah. Seluruh saudaraku di Bangka sangat mengenal karakter pemalasku itu. Namun, nasib bin takdir tidaklah bisa dikenali oleh siapa pun.

Gaes,
Aku berubah drastis ketika berada jauh dari kampung halaman. Semakin aku rajin atau berusaha keras, semakin kuandalkan nasib bin takdir yang terwujud. Kesadaran sebagai orang bodoh dan kemauan untuk berubah merupakan jalan terbaik bagi nasib baik/mujur.

Karya-karyaku, baik gambar maupun tulisan, diperhitungkan oleh beberapa penyelenggara lomba ketika aku masih berada di Yogyakarta. Salah satunya adalah nomine Lomba Desain Kaus Oblong “Sewindu Rindu Dagadu”. Ya, di Kota Budaya itulah aku ditempa. Setamat SMA aku sempat belajar menggambar di Bandung melalui bimbingan belajar menggambar bernama “Garizt” yang diasuh oleh HMSRD-ITB karena aku ingin masuk FSRD-ITB, meskipun tiga kali gagal.

Gaes,
Kegagalan tidak pernah membuatku cengeng. Kebodohanku pun tidaklah menjadi alasan untuk iri/dengki pada orang-orang kreatif-menang-juara, apalagi bergabung dengan kelompok pendengki lalu mengeroyok dengan cara mencela atau mencemooh orang-ornag yang kreatif-menang dalam dalam pelbagai perlombaan intelektual.

Gaes,
Jadilah manusia yang tidak cengeng/manja, misalnya selalu minta bantuan untuk mencapai suatu puncak pertandingan atau persaingan intelektual. Pergunakan waktu yang ada untuk menempa diri. Beranilah menjajal kemampuan berpikir dengan cara mengikuti ajang uji nyali (lomba).

Dan jadilah manusia yang mandiri dengan kemampuan sendiri. Tidak perlu bergabung dengan kelompok pencemooh yang hidup dari iri/dengki lalu memfitnah seenak mulut. Kualitas kemanusiaan tidak bisa dikatrol oleh obrolan penuh iri/dengki, bahkan malah sebaliknya, bahwa iri/dengki hanya menjerumuskan kualitas kemanusiaan.

Aku rasa cukup itu saja, Gaes. Selamat menjadi diri sendiri dengan penempaan yang mampu dilakoni secara apa adanya.

*******
Balikpapan, 15 Maret 2019   

Jumat, 01 Februari 2019

Antara Penulis dan Bukan Penulis

Seseorang yang mengaku-aku sebagai penulis bukanlah seluruh waktunya hanya bercuap-cuap sambil menepuk dada “Aku Penulis!”. Seumpama seorang pebulutangkis, pesepakbola, atau pelukis, yang dikenal karena keseharian mereka melakukan apa yang kemudian orang sebutkan.

Saya tidak perlu merepotkan diri dengan sebutan “penulis” dari siapa pun, apalagi saya tidak pernah bercita-cita menjadi penulis. Menjadi penulis atau tidak, bagi saya, sangat tidak penting, selain menulis itu sendiri.

Ya, saya hanya ingin mewujudkan pemikiran saya dalam bentuk tulisan, dan sesekali mengikuti ajang uji nyali alias pertandingan (lomba) penulisan. Kalau dalam bentuk lisan (omongan), sebentar saja bisa ditelan angin. Apakah yang bisa dikaji, dibenahi, dikritisi, dan seterusnya jika kemudian habis dimangsa angin? 

Namun, di Balikpapan, tidak sedikit orang yang saya temui ternyata tidaklah lebih mulia daripada tukang omong belaka alias pembual. Apa hebatnya "Menulisnya jarang, berkoarnya sering"? 

Ada juga beberapa orang yang, katanya, suka menulis tetapi jarang sekali karya tertulis mereka tampil untuk dibaca, apalagi dijadikan rujukan. Kalau pun muncul tulisan mereka, minimal di blog pribadi semacam ini, masih terlihat berlepotan di sana-sini, tidak memahami kaidah penulisan, dan sekitarnya. Sayangnya mereka bersegera (takabur) menepuk dada “Aku penulis!”, dan berpamer diri di banyak hajatan hanya supaya mendapat pengakuan sebagai penulis. Bah!

Ya, ibarat orang berak, bahkan, menceret. Baru bisa berak, sudah berkoar-koar dalam kakus, “Aku berhasil berak!” Setelah itu ia keluar dari kakus tetapi tidak cebok. Aduhai sekali!

Saya tidak perlu merepotkan diri dengan pengakuan-pengakuan nihil, meskipun pernah menjadi Juara I dalam Lomba Penulisan Esai se-Kaltim & Kaltara 2016 atau se-Babel 2000, dan lain-lain. Saya tidak perlu merepotkan diri dengan berkumpul bersama para pembual semacam itu. Pengakuan dan pergaulan yang kontra-produktif, dan tidak kreatif, apalah faedahnya bagi diri sendiri. Saya justru akan merepotkan diri saya sendiri dengan menulis, dan duduk dengan manis di rumah.

Seorang penulis dikenal karena karya-karya tertulisnya, bukan karena berkoar-koar seperti para pembual-pendusta-pembohong alias hoakers. Akan tetapi, saya tetap bukanlah penulis, tidak mendambakan pengakuan siapa pun, dan tidak pernah bercita-cita menjadi penulis apalagi penulis terkenal!

Paling tidak, sampai 2018, buku karya tunggal saya sudah terbit 18 judul. Cukup itu dulu karena 2019 saya sedang menyiapkan 3-6 buku karya saya lagi. Berkarya itu utama, berkoar itu pecundang. Bukti lebih berbunyi daripada berkoar dengan nyaring seperti tong kosong.

*******  

Semoga 2019 Bisa Terbit

Kumpulan Artikel "Pilihan" di Kompasiana.Com
"Arsitek yang Menulis" (AyM)

Tidak ada yang istimewa ketika seorang arsitek menulis. Lebih 10 arsitek Indonesia juga menulis, dan tulisan mereka menjadi sebuah buku.

Kalau kemudian saya menulis, ah, tidaklah istimewa. Skripsi saya pun berisi tulisan, dan saya tulis sendiri. Jadi, bagaimana?

Ya, jadi buku "Arsitek yang Menulis" yang berisi 24 arikel yang berstempel "pilihan" di Kompasiana.Com itu, meski sedang dalam proses perolehan ISBN (Internasional Serial Book Number) dari Perpustakaan Nasional RI.



Kumpulan Artikel "Pilihan" di Kompasiana.Com
"Korupsi Masuk Surga" (KMS)





Kumpulan Artikel "Pilihan" di Kompasiana.Com
"Tokoh Hoaks" (TH)





Kumpulan "Artikel Utama" di Kompasiana.Com
"Surga Siap Saji" (S3)

Dalam buku S3 terdapat 17 artikel yang terpajang di rubrik yang berbeda-beda. Hukum, Politik, Birokrasi, Transportasi, Bisnis, Kuliner, Humaniora, Media, Gaya Hidup, dan seputar Pemilu Serentak 2019 (Kandidat, dan Analisis).

Judul S3 berasal dari judul salah satu artikel yang terpajang di rubrik Analisis (Kotak Suara) pada 17 Oktober 2018. Artikel ini berkaitan dengan Pemilu Serentak 2019, khususnya Pilpres.

"Mungkin hanya terjadi di Indonesia. Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) muncul "surga-neraka". Dan, hanya orang Indonesia yang bisa dengan mudah-murah masuk "surga-neraka" melalui pencoblosan terhadap nomor atau bagian gambar pasangan kontestan di tempat pemungutan suara." Begitu yang tertulis pada alinea (paragraf) pertamanya.

Dan kata pengantar buku S3 ini ditulis oleh Tilaria Padika yang memiliki lebih dari 200-an tulisan berstempel "Artikel Utama" di Kompasiana.Com.


Kumpulan Artikel "Pilihan" di Kompasiana.Com
"Sang Pengendara Aksara" (SPA)

Dalam buku SPA terdapat 23 artikel yang berada dalam rubrik Catatan, Hobi, Humaniora, dan Media. Waktu penayangannya antara 2014 sampai 2019. 

Judul SPA berasal dari judul salah satu artikel yang terpajang di rubrik Humaniora, 2 Januari 2019. Artikel ini berkaitan dengan tulis-menulis serta penyebutan "penulis" sebagai "pengendara aksara". Kesemuanya merupakan pengalaman saya sendiri selama lebih 20 tahun "tersesat" di dunia penulisan.

"Penulis seumpama pengendara aksara. Penulis mengendarai aksara untuk membawa pikirannya ke sebuah tempat tujuan. Entah di mana tujuannya, dan akan berpindah ke mana selanjutnya". Begitu yang tertulis pada alinea (paragraf) pertama.



Kumpulan Artikel "Pilihan" di Kompasiana.Com
"Keberagaman adalah Takdir" (KaT)




Kumpulan Artikel "Pilihan" di Kompasiana.Com
"Kampanye yang Menyengsarakan"



***

2019 ini saya ingin sekali menerbitkan 7 buku saya, bahkan 8 (satu kumpulan cerpen lagi). Memang saya tidak memiliki uang, bahkan tabungan. Akan tetapi, saya masih percaya pada "nasib baik", asalkan saya siapkan dulu calon buku-buku saya. Apalah gunanya "nasib baik" (rezeki turun) tetapi saya tidak menyiapkan calon buku-buku itu, 'kan?

*******